Rabu, 13 Januari 2010

Manusia setengah dewa


Tidak perlu diragukan lagi bahwa ada satu konsep dalam diri setiap orang bahwa hamba Tuhan adalah manusia yang tak bercela, manusia yang kudus, manusia yang sanggup melakukan apa saja termasuk meminjamkan uang kepada jemaatnya, dsb … sehingga hal ini membuat peranan seorang pendeta menjadi rumit. Mengapa saya katakan seperti itu ??? bagaimana tidak menjadi rumit apabila orang beranggapan bahwa pendeta adalah manusia yang “wah” dalam arti hebat dalam segala hal termasuk menjawab kebutuhan orang lain…waw “soro” juga jadi hamba Tuhan ya ??? ayo siapa yang mau jadi pendeta ???

Sebagai seorang Kristiani yang tahu kebenaran, apakah saudara juga beranggapan seperti itu ?? apabila iya maka saya sarankan agar saudara bertobat ! manusia siapapun ia tidak terkecuali pendeta memiliki kelemahan yang “mungkin” saja tidak berbeda dengan yang lain, mengapa ? karena pendeta pun masih hidup di dalam daging, pendeta juga manusia bukan manusia setengah dewa bak Hercules. Ketika manusia pertama jatuh ke dalam dosa …. Akibat yang dirasakan oleh semua keturunannya adalah “terjangkitnya” benih dosa dalam diri manusia yang menyebabkan semua hal yang dilakukan manusia adalah dosa. Sekalipun ia berbuat baik menurut “ukuran’ manusia, ia tetap berdosa. Mengapa ? karena apa yang dilakukannya tidak untuk kemuliaan nama Tuhan, Motivasi yang salah, tidak sesuai dengan Firman Allah.

Oleh sebab itu jangan berfikir bahwa Hamba Tuhan itu sakti madraguna yang keberadaannya bak Gatot Kaca dalam cerita pewayangan, jangan pernah berfikir bahwa Hamba Tuhan itu kuat bak superman yang selalu tahan akan dosa. Yang lebih tepat adalah apabila saudara berfikir bahwa pendeta itu sama seperti saudara dan saya. Ia juga butuh refreshing bersama dengan keluarganya, ia juga butuh jalan-jalan ke mall sekalipun hanya sekedar mencuci mata, ia juga butuh makan enak sekalipun hanya di warung … dan yang paling penting ia juga butuh dimengerti oleh jemaatnya bahwa ia juga memiliki kelemahan.

Apa yang membuat perbedaan yang signifikan antara saudara dengan pendeta ? saya merasa perbedaannya hanya satu, yaitu pendeta secara akademik belajar teologia sedangkan saudara tidak, selebihnya saudara tidak berbeda dengan pendeta. Oleh sebab itu hilangkan kesan yang cenderung meng-kultus-kan pendeta karena apabila itu terjadi maka lambat-laun saudara akan kecewa.

Senin, 11 Januari 2010

GAME OVER


Ada sesuatu yang terjadi dalam hidup ini yang sangat di hindari oleh manusia, yaitu penyesalan dan kematian. Penyesalan dihindari karena ada kekecewaan yang akan menyusulnya, sedangkan kematian dihindari karena bingung kemanakah hidup ini akan dkemanakah hidup ini dibawa, sorga atau neraka ?? apabila engkau hidup baik dan tidak berbuat jahat ada “kemungkinan” akan ke sorga dan sebaliknya apabila dalam hidup ini berbuat jahat maka pada akhirnya saudara mengerti sendirilah …. Begitulah kira-kira konsep keselamatan menurut dunia !!

Dalam kekristenan sungguh berbeda, dalam kekristenan perbuatan baik tidaklah menyelamatkan manusia !! sekali lagi tidak MENYELAMATKAN !! mengapa ?? bukankah perbuatan baik merupakan tolak ukur bagaimana manusia hidup di dunia ini … kualitas manusia itulah yang menentukan. Ya sekali lagi memang hal itu benar adanya akan tetapi bagi pengikut Kristus itu berbeda, mengapa ? karena ketika saudara percaya dengan iman bahwa Yesus adalah Tuhan dan juru selamat maka saudara di selamatkan … karena saudara sudah diselamatkan maka saudara bisa berbuat baik dengan benar. Inilah yang menjadi perbedaan mendasar antara Kristen dan non-Kristen.

Akan tetapi sekalipun begitu … tidak semua yang sudah didalam Kristus mampu untuk berbuat baik, bahkan sekalipun masih di dalam Kristus … hidupnya mempermalukan nama Tuhan. Saya banyak melihat hal ini terjadi dalam masyarakat Kristen, saya menuliskan hal ini bukan karena saya membenci Kristen..jelas tidak ! semua yang ada dalam tulisan ini hanyalah sebagai suatu masukan yang membangun. Dan jelas sekali di dalam Matius 25, pada waktu penghakiman terakhir…Tuhan mengumpulkan semua manusia di seluruh bumi ini kemudian di pisahkan menjadi dua, sama seperti memisahkan kambing dengan domba. Tuhan berkata bahwa barangsiapa yang melakukan segala sesuatu kepada orang yang paling hina ini maka ia melakukannya untuk Tuhan … kepada mereka yang “melakukannya” akan masuk kedalam kerajaan Sorga dan kepada yang tidak, Alkitab katakan akan masuk ke tempat siksaan kekal.

Oleh sebab itu pilihan sekarang ada di tangan saudara, apakah saudara mau melakukan segala sesuatu untuk orang yang paling hina ini atau saudara hanya menutup mata untuk segala sesuatunya sehingga tempat siksaan yang kekal ada di depan mata …. Saya orang yang paling tidak suka dengan istilah aji mumpung, akan tetapi ada juga mumpung yang positif … mumpung masih hidup, mumpung masi bisa, mumpung masi punya… maka berbagilah dengan mereka yang kekurangan. Karena apabila Tuhan sudah katakan GAME OVER … maka saudara tidak memiliki kesempatan lagi untuk melakukan sesuatu untuk orang yang paling hina ini… jangan sampai saudara menyesal karena percuma sudah GAME OVER…..

Minggu, 10 Januari 2010

Sungkanisme



Alkisah, pada zaman dahulu ada seorang ibu yang sedang mengandung anak kembar laki-laki. Tidak ada tanda-tanda kelainan pada masa kehamilan ibu tersebut sehingga mendekati bulannya untuk melahirkan. Namun, memasuki hari ke-10 pada bulan yang kesembilan tidak ada tanda-tanda akan melahirkan. Si ibu pun bersabar, mungkin karena kembar dan laki-laki. Dia pun bekerja seperti biasa berdagang kelontong di pasar pagi.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, serta tahun berganti tahun, si ibu belum juga melahirkan, sementara perut sudah semakin besar dan makanan yang masuk pun semakin banyak. Hingga memasuki tahun keempat puluh kehamilannya, para pemuka adat dan tabib berencana mengeluarkan bayi dewasa yang ada dalam kandungan ibu tersebut. Hal ini dilakukan mengingat kondisi ibu yang sudah semakin lelah dan bertambah tua. Operasi mengeluarkan sang bayi pun direncanakan dengan melibatkan tabib-tabib senior yang ada di negri tersebut.

Syukurlah, operasi kandungan ini berjalan dengan lancar. Ketika kandungan itu dibuka tampak dua orang manusia yang sudah berjanggut dan berkumis dengan ibu jari yang saling menunjuk rekannya. Karena sudah empat puluh tahun, jadi mereka sudah cukup dewasa dan tabib yang mengoperasi bertanya, mengapa mereka tidak keluar-keluar (lahir) dari kandungan sejak usia 9 bulan 10 hari yang lalu. Mereka menjawab sambil menunjuk rekannya, “kami saling mempersilahkan. Saya meminta agar dia terlebih dahulu keluar, dia pun demikian selalu mempersilahkan saya untuk kelauar duluan, terus saja demikian hingga anda para tabib membuka pintu kandungan ini”.

………………….

Budaya sungkan dalam batas-batas normal memang akan meningkatkan kualitas hubungan dan meningkatkan tali “silahturahmi” dalam suatu organisasi. Budaya seperti ini merupakan cerminan budaya timur yang sangat menghargai orang tanpa bermaksud menjatuhkan orang lain apalagi mempermalukan. Namun apabila budaya sungkan dilakukan dengan porsi yang berlebihanan maka akan menghambat laju gerak kemajuan dalam suatu organisasi, mengapa bisa begitu ?? ya jelas bisa sebab prinsip ABS berlaku disini yaitu Asal Babe Senang, di depan berkata iya akan tetapi dibelakang malah ngedumel. Sungkaisme seperti inilah yang harus dijauhkan dari kehidupan setiap kita

Tidak ada salahnya apabila harus berkata iya diatas iya dan tidak diatas tidak. Mungkin saja itu menyinggung atau terkesan “blak-blakan”, tanpa “tedeng aling-aling” yang sesuai dengan etika komunikasi yang ada tetapi itu juga ada sudut positifnya juga yaitu jujur dan tulusnya dalam menyampaikan pendapat yang membangun, tidak seperti cerita dua anak kembar di atas yang saling sungkan dan akhirnya telat untuk lahir sampai 40 tahun dalam kandungan tanpa ada kemajuan yang berarti.

Kamis, 07 Januari 2010

HMC Joshua Generation Rayon 1H

Youth Gabungan




Buat apa ke gereja ?


Mayoritas penduduk di Eropa adalah orang Kristiani. Walaupun demikian, berdasarkan jejak pendapat yang pernah dilakukan di Jerman, hanya satu dari sepuluh orang yang pergi ke gereja. Lebih dari 90 % umat Kristiani di sana tidak mau ke gereja lagi, sebab mereka tidak merasa mendapatkan sesuatu manfaat dari gereja.


Seorang filsuf ateis, Fredrich Nietzche, pernah ditanya mengapa ia mempunyai pandangan yang sangat negatif terhadap umat Kristiani. Ia menjawab, “ Saya akan bisa percaya pada Tuhan bila mereka yang mengaku Kristen, sedikitnya lebih terlihat kelakuannya sebagai orang Kristen”.


C.S. Lewis, seorang penulis Kristiani yang terkenal, pernah menulis bahwa gereja bagi dia bukanlah sarana penolong yang lebih bisa mendekatkan diri kepada Tuhan, bahkan sebaliknya menjadi “penghambat” !


Gereja adalah tempat kita bisa pamer, entah pamer pakaian, mobil, status, harta atau bakat. Gereja juga secara tidak langsung telah menjadi bursa untuk bertukar gossip. Di samping itu harus diakui bahwa melalui gereja kita bisa dengan mudah mendapatkan jodoh atau setidaknya akan dilihat oleh tetangga sekampung bahwa kita ini orang saleh, yang setiap minggu taat ke gereja.


Oleh sebab itu daripada nambah dosa, lebih baik diam di rumah. Sebab apa yang bisa kita dapatkan di gereja, bisa kita dapatkan juga di rumah. Ingin ikut kebaktian mulai dari bahasa inggris sampai bahasa Indonesia, semuanya lengkap di tayangan televisi. Berdoa dan membaca Alkitab bisa kita lakukan di rumah. Jadi tidak harus di gereja. Ingin mendengarkan Khotbah tinggal beli kasetnya, ingin memuji Tuhan tinggal beli VCD lagu-lagu rohani. Lengkaplah sudah. Apa yang kita lakukan di gereja bisa kita lakukan juga di rumah. Lebih dari itu bukankah Tuhan ada dimana-mana ?? atau, Tuhan hanya bisa ditemui di gereja ??


Apa sebenarnya yang kita dapatkan di gereja ?? kita pergi ke gereja bukannya ingin melihat kepalsuan, dan kita juga tidak ingin dibelenggu mati oleh bermacam-macam doktrin. Di samping itu, kita juga tidak butuh hiburan yang disajikan oleh gereja. Dan tanyalah pada diri sendiri, “ Apakah nasib anda menjadi lebih baik setelah mengunjungi gereja selama bertahun-tahun ??

Apakah pergi ke gereja merupakan satu persyaratan mutlak untuk bisa masuk surga ?? apakah gereja itu benar-benar satu kebutuhan mutlak bagi orang Kristiani yang sudah percaya ? dan, tanyalah dengan jujur sudah berapa kali kita mendengar bahwa banyak orang merasa dikecewakan oleh gereja atau mendapatkan pengalaman pahit di gereja, sehingga tidak mau lagi menginjakkan kaki lagi di gereja.


Oleh karena itu, sebelum kita ke gereja pada hari minggu yang akan datang, renungkanlah dahulu : “Apa sebenarnya yang bisa Anda dapatkan dari gereja selain (member) upeti sebanyak perpuluhan yang wajib dibayarkann ?!”


Kalau anda tidak bisa menjawab pertanyaan diatas, lebih baik anda memanfaatkan waktu untuk bermain Golf atau jalan-jalan ke puncak – daripada ke gereja !!!



Ps. D

Youth Pastor

GBI Rayon 1-H

Asal Tuhan Tahu


Memang dalam hidup ini, kita sering diperhadapkan dengan sebuah pilihan dan terkadang pilihan yang harus diambil membuat hidup yang dijalani menjadi “sulit”. Sulit bukan karena salah mengambil keputusan itu akan tetapi karena memang itulah resiko dari sebuah pilihan. Contohya pilihan hidup seorang Ibu Theresia yang semua orang tahu bahwa hidupnya dipersembahkan untuk korban kusta yang ada di India. Secara manusia mungkin pekerjaan itu tidaklah berarti, pekerjaan yang seringkali dianggap orang bukan sebagai suatu “pekerjaan”. Tapi inilah yang hebat dari seorang bunda Theresia, ia tidak peduli dengan apa pandangan orang tentang apa yang dilakukannya, ia tidak peduli siapa yang menjadi objek dari pekerjaannya itu…yang ia pedulikan adalah bagaimana Tuhan berkenan atas apa yang diperbuatnya, yang ia pedulikan hanyalah bagaimana orang kusta ini dapat pulih dan hidup kembali normal lagi, lebih daripada itu Tidak !!

Di sinilah perbedaan antara “saudara” dengan bunda Theresia. Seringkali tingkat kemapanan dari pekerjaan saudara yang menentukan siapa saudara. Semakin tinggi jabatanlah yang menentukan harga diri seseorang dan memang inilah kenyataannya. Kebanyakan orang lebih suka bekerja sebagai bos daripada sebagai OB (ya…iyalah). Akan tetapi saya ingin mengatakan bahwa bukan apa yang saudara kerjakan yang menentukan jati diri saudara, tetapi terlebih dari itu semua bahwa “hasil” dari pekerjaan kitalah yang menentukan siapa kita sebenarnya. Siapa pun bisa menjadi seorang direktur tetapi apabila hasil dari pekerjaannya tidak pernah memuaskan, paling lama 3 bulan jabatan itu akan lari ke orang lain, akan tetapi apabila seorang selesman yang selalu mengerjakan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh sehingga hasil dari pekerjaannya pun maksimal maka penigkatan jabatan pun akan dengan sendirinya naik.

Hal ini bukan hanya terjadi di perusahaan-perusahaan besar atau kantor-kantor yang ada, hal ini pun seringkali terjadi di gereja Tuhan. Mengapa hal ini bisa terjadi ? konsep tentang harga diri ditentukan dari kemapanan tingkat pekerjaan telah menjamur di gereja yang menbuat seorang hamba Tuhan yang “di pakai Tuhan” tidak lagi mau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang “kotor”. Konsep tentang doulos berubah menjadi kurios, dahulu hamba sekarang menjadi tuan tanpa mau melihat ke bawah lagi….menyedihkan !! perkataan Tuhan Yesus pun menjadi tidak berarti, “barangsiapa yang ingin menjadi terbesar di antara kamu, hendaknya ia menjadi pelayanmu”. Inilah yang menjadi masalah….semua ingin langsung menjadi yang terbesar tanpa mau menjadi pelayan dahulu. Oleh karena itu hamba-hamba Tuhan pun harus mengintrospeksi siapa dirinya, jangan Cuma memakai label “hamba” tetapi hidupi label tersebut dengan sikap yang menghamba.

Jadi apapun pekerjaan saudara jangan pernah berkecil hati, jangan pernah minder sebab yang penting Tuhan tahu….Tuhan tahu apa yang saudara kerjakan bukan untuk manusia tapi untuk Tuhan, ini yang terpenting lebih dari apa pun juga karena dengan begitu apa pun yang saudara kerjakan akan meberikan hasil yang maksimal.


Ps. D

Youth Pastor

GBI Rayon 1-H