Kamis, 07 Januari 2010

Asal Tuhan Tahu


Memang dalam hidup ini, kita sering diperhadapkan dengan sebuah pilihan dan terkadang pilihan yang harus diambil membuat hidup yang dijalani menjadi “sulit”. Sulit bukan karena salah mengambil keputusan itu akan tetapi karena memang itulah resiko dari sebuah pilihan. Contohya pilihan hidup seorang Ibu Theresia yang semua orang tahu bahwa hidupnya dipersembahkan untuk korban kusta yang ada di India. Secara manusia mungkin pekerjaan itu tidaklah berarti, pekerjaan yang seringkali dianggap orang bukan sebagai suatu “pekerjaan”. Tapi inilah yang hebat dari seorang bunda Theresia, ia tidak peduli dengan apa pandangan orang tentang apa yang dilakukannya, ia tidak peduli siapa yang menjadi objek dari pekerjaannya itu…yang ia pedulikan adalah bagaimana Tuhan berkenan atas apa yang diperbuatnya, yang ia pedulikan hanyalah bagaimana orang kusta ini dapat pulih dan hidup kembali normal lagi, lebih daripada itu Tidak !!

Di sinilah perbedaan antara “saudara” dengan bunda Theresia. Seringkali tingkat kemapanan dari pekerjaan saudara yang menentukan siapa saudara. Semakin tinggi jabatanlah yang menentukan harga diri seseorang dan memang inilah kenyataannya. Kebanyakan orang lebih suka bekerja sebagai bos daripada sebagai OB (ya…iyalah). Akan tetapi saya ingin mengatakan bahwa bukan apa yang saudara kerjakan yang menentukan jati diri saudara, tetapi terlebih dari itu semua bahwa “hasil” dari pekerjaan kitalah yang menentukan siapa kita sebenarnya. Siapa pun bisa menjadi seorang direktur tetapi apabila hasil dari pekerjaannya tidak pernah memuaskan, paling lama 3 bulan jabatan itu akan lari ke orang lain, akan tetapi apabila seorang selesman yang selalu mengerjakan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh sehingga hasil dari pekerjaannya pun maksimal maka penigkatan jabatan pun akan dengan sendirinya naik.

Hal ini bukan hanya terjadi di perusahaan-perusahaan besar atau kantor-kantor yang ada, hal ini pun seringkali terjadi di gereja Tuhan. Mengapa hal ini bisa terjadi ? konsep tentang harga diri ditentukan dari kemapanan tingkat pekerjaan telah menjamur di gereja yang menbuat seorang hamba Tuhan yang “di pakai Tuhan” tidak lagi mau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang “kotor”. Konsep tentang doulos berubah menjadi kurios, dahulu hamba sekarang menjadi tuan tanpa mau melihat ke bawah lagi….menyedihkan !! perkataan Tuhan Yesus pun menjadi tidak berarti, “barangsiapa yang ingin menjadi terbesar di antara kamu, hendaknya ia menjadi pelayanmu”. Inilah yang menjadi masalah….semua ingin langsung menjadi yang terbesar tanpa mau menjadi pelayan dahulu. Oleh karena itu hamba-hamba Tuhan pun harus mengintrospeksi siapa dirinya, jangan Cuma memakai label “hamba” tetapi hidupi label tersebut dengan sikap yang menghamba.

Jadi apapun pekerjaan saudara jangan pernah berkecil hati, jangan pernah minder sebab yang penting Tuhan tahu….Tuhan tahu apa yang saudara kerjakan bukan untuk manusia tapi untuk Tuhan, ini yang terpenting lebih dari apa pun juga karena dengan begitu apa pun yang saudara kerjakan akan meberikan hasil yang maksimal.


Ps. D

Youth Pastor

GBI Rayon 1-H

2 komentar:

  1. amin ps. Diet.......
    emang Tuhan tau apa yg kita kerjakan, so apakah kita tau apa yg kita kerjakan ????????
    Tidak ada kerjaan yg terlalu kecil tuk dikerjakan, jg tidak ada kerjaan yg terlalu besar tuk dikerjakan.............
    ayo guys kerjakanlah tugas/kerjaan yg dijumpai dgn segenap hati..........
    God bless Us......

    BalasHapus
  2. Just do the best,right? Apapun pekerjaan yang TUHAN tetapkan,lakukanlah dengan hati yang penuh suka cita tanpa mengeluh,seberapa beratnya pun pekerjaan itu..

    BalasHapus